Diary of an independent Writer

Just another dagdigdug.com weblog

Saya dukung Roy Suryo

Filed under: 1 — zakwriter at 4:44 pm on Thursday, January 28, 2010

Lama tak berkomentar terhadap fenomena akhir-akhir ini.

Hingga muncul Roy suryo vs Ruby/Rudy alamsyah. Karena jarang lihat tivi, saya baru tau berita ini dari detik atau dari blog-blog di wordpress.com

Entah kenapa, dalam hal ini saya cocok dengan Roy suryo. Kejahatan memang tak seharusnya diberitaukan ke masyarakat umum, setahu saya juga ini merupakan kaidah dalam fiqh.

Sangat menyayangkan banyak blogger dan org2 IT yang cenderung membantah roy suryo hanya karena “dendam masa lalu :-)” Sehingga, pembelaannya terhadap Ruby alamsyah terkesan dicucuk hidungnya.

Jadi Roy, saat ini sepertinya anda benar menurut penilaian subjektif ku.

Banyak omong miskin prestasi

Filed under: 1 — zakwriter at 8:32 am on Thursday, January 28, 2010

Ah, kali ini saya akan membicarakan orang lain. Tapi agar tak disebut ghibah, maka saya tidak akan membicarakan nama kedua teman saya ini.

Ya saya akan menceritakan tentang kenalan saya, seorang pria separuh baya, sekitar 40 an tahun atau kurang atau lebih (sy tak tahu pastinya). Sudah mapan, punya istri, punya rumah, jauh lebih senior dibandingkan saya. 15 tahunan di atas sy.

Sebelumnya ia bekerja di perush cukup terkemuka di semarang. Katanya sih ingin berwiraswasta. Ia pun bahkan menjadi aktivis salah satu klub wiraswasta cabang semarang. TDA Semarang. Ia pun berkoar2, akan menjadi wiraswastawan sukses.

Namun lama lama lama ditunggu, ternyata tak berani juga keluar dari pekerjaan untuk memulai bisnis wiraswasta secara serius. Saya pun hanya mencibir dalam hati , kenapa tidak berani. Padahal kalau menasehati orang untuk berwiraswasta, hebatnya bukan main. Tapi diri sendiri tak berani melakukannya. Jarkoni……. kata org jawa.

Saya pun lantas menjadi tak hormat kepadanya, dalam hal ini.

Ada lagi teman lain, memiliki cita-cita yang bagus, pintar orangnya. Sering mengatakan ingin begini, ingin begitu. Beli ini beli itu. Pengen buat ini dan pengen buat itu. Dan ini diucapkan seolah2 benar2 akan dilakukan.

Tapi selalu saja ada alasannya, ketika ditanya kenapa belum dieksekusi? Belum punya modal. timing tak tepat. dan ratusan lainnya. Bull shit lah 2 2 nya.

Tapi rasanya sulit untuk membuang tipe teman2 seperti ini. Karena mereka tetap punya jasa ke saya, walaupun saya sering gemas dibuatnya. Diajak berlari tapi tak ada nyali.

PAdahal rugi uang bisa dicari, tapi rugi waktu tak ada yg bisa ganti. Orang sudah tua akan menyesal , kenapa waktunya tidak dipakai untuk sesuatu yang diinginkannya dari hati yang terdalam.

A wife is not merely a wife, it’s a life.

Filed under: 1 — zakwriter at 10:48 am on Friday, January 22, 2010

In the long run, a man may not live a life without a woman since there is no life without a wife

Source: yemeni times

Sekali biduk berlayar, pantang pulang ke pantai.

Filed under: 1 — zakwriter at 11:31 am on Thursday, January 21, 2010

Hey kamu yg ada di sana.

Di suatu tempat antara meruya dan Slipi

Di markas perusahaan terkemuka.

Kamu mungkin bisa menghalangi ku.

Tapi tidak bisa menghentikan langkahku.

Karena tidak ada yg bisa menghalangi Aku

Kacuali apa yang ada di atas langit.

 

Semarang, Januari 2010

Yours faithfully.

Gw bosan

Filed under: 1 — zakwriter at 10:55 am on Saturday, January 9, 2010

gw bosan, lg nganggur. ga ada kerjaan.

Pengen ngapa2in ga bisa.

Pengen beli mobil.

Pengen ada kerjaan.

Pahlawan Tak Dikenal – Toto Sudarto Bachtiar

Filed under: 1 — zakwriter at 8:08 am on Thursday, December 31, 2009

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(1955)

ganti oli hari ini

Filed under: 1 — zakwriter at 6:13 pm on Monday, December 28, 2009

ganti oli hari ini, KM motor menunjukkan 42.2K km ganti targetnya min 1K km lagi.

Heboh pengumuman PNS pemprov jateng

Filed under: 1 — zakwriter at 6:36 am on Wednesday, December 23, 2009

Pagi ini, kompleks perumahanku cukup heboh. Karena ibu2 di perumahanku banyak yg mendaftar sebagai PNS. Bapak2nya sih jarang karena umumnya PNS dianggap kurang keren untuk seorang laki2.

Wah,euforia negeri para pengidam pegawai negeri.

Btw mengenai pegawai negeri, saya pernah baca buku entrepreneurship bangsa indonesia tulisan pak Moko P Astamoen.

Ironis di Indonesia, banyak orang ingin jadi PNS karena ingin kerja ringan, tapi gaji layak. Padahal sudah tahu gajinya gak besar, nanti pasti dijadikan alasan untuk korupsi. Kenapa tidak usah mendaftar sekalian klo tahu gajinya kecil?

Saya berharap semoga saya dan keluarga sy gak ada lg yg jadi PNS.Lebih baik tangan bekerja wiraswasta daripada bekerja jadi pegawai yg pengen kerja ringan, tapi duid ngalir terus.

Bisnis ku adalah anakku

Filed under: 1 — zakwriter at 6:52 pm on Monday, December 14, 2009

lg baca buku bagus, Young guns oleh penulis Inggris. Buku ini tentang bisnis. Lagi baca bab tentang Partnership.

Ada satu kutipan yg saya suka.

Bisnis kita adalah Anak kita….

Ya benar, karenanya saya sekarang sudah punya tambahan 1 anak yg saya sayangi, yaitu bisnis saya dan teman-teman saya.

Inshallah jika kita berbisnis dengan menganggap bisnis kita sebagai anak kita, maka bisnis kita akan jaya.

Kemunafikan dunia korporat

Filed under: 1 — zakwriter at 7:01 am on Thursday, December 10, 2009

Alkisah seorang pernah bertanya kepada seorang yang berilmu. Wahai orang berilmu, saya habis bepergian ke negara-negara maju, dan saya lihat di sana orangnya ramah-ramah, tersenyum di pekerjaannya. Apakah berarti mereka lebih baik dari kita.

Maka orang berilmu tersebut mengatakan, itulah yang terlihat dari permukaan. Padahal mereka hanya tersenyum karena tuntutan pekerjaan dan bukan dari dalam hati secara ikhlas. Mereka dikendalikan uang dan bukan mengharapkan ridho dari yang maha kuasa.

Itu adalah cuplikan dari istifta (permintaan fatwa) yang pernah saya baca entah dimana. Intinya berkaitan dengan kemunafikan dunia korporat.

Sekarang kita beralih lagi ke kisah yang lain.

Saya terus terang tidak suka kemunafikan dunia korporat, ketika saya ke bank, orang-orang tersenyum. Ketika saya ke graha indosat atau telkomsel, semua orang tersenyum. Terus terang saya tak pernah membalas senyum itu.

Ketika ke plasa telkom juga tersenyum, ketika ke mana-nama di perkantoran manapun, satpam akan menyambut dengan senyum, front office menyambut dengan senyum.

Namun tiba-tiba saya terkejut dengan berita tentang Group Head Marketing sebuah perusahaan besar menghajar istrinya sendiri, memukul anak-anaknya sendiri. Mana ya keramah tamahan yang dipertunjukkan di kantornya. Bukan satu dua orang yang begini, tapi banyaaaaaak.

Saya yakin 99%, bahwa para front office yang tersenyum senantiasa di kantornya itu jarang tersenyum kepada suaminya di rumah atau kepada anak-anaknya. Para manajer yang selalu tersenyum terhadap bawahan dan rekan bisnis itu, tentu jarang tersenyum kepada istri dan anak-anaknya. seandainya tersenyum, tidak akan seefektif seperti di kantor.

Mereka yang lembut dan afektif, welas asih kepada sekretaris, bawahan, rekan bisnis, office boy, ternyata tidak lembut, afektif dan welas asih kepada istri, anak atau suaminya.

Karena itulah saya tidak menyukai dunia korporat. Saya lebih suka menjadi wiraswasta. yang bisa tersenyum dan welas asih kepada keluarga, walaupun juga bisa marah dan tegas. Nothing to hide.

KArena saya merasa dunia wirasawasta adalah dunia apa adanya. Tidak ada kepura-puraan. Inilah diriku, bukan diri yang dikendalikan oleh korporat.

Kemunafikan korporat. Sebuah hal yang menyedihkan

Semarang, Ketika semi menganggur….

Next Page »