Alkisah seorang pernah bertanya kepada seorang yang berilmu. Wahai orang berilmu, saya habis bepergian ke negara-negara maju, dan saya lihat di sana orangnya ramah-ramah, tersenyum di pekerjaannya. Apakah berarti mereka lebih baik dari kita.
Maka orang berilmu tersebut mengatakan, itulah yang terlihat dari permukaan. Padahal mereka hanya tersenyum karena tuntutan pekerjaan dan bukan dari dalam hati secara ikhlas. Mereka dikendalikan uang dan bukan mengharapkan ridho dari yang maha kuasa.
Itu adalah cuplikan dari istifta (permintaan fatwa) yang pernah saya baca entah dimana. Intinya berkaitan dengan kemunafikan dunia korporat.
Sekarang kita beralih lagi ke kisah yang lain.
Saya terus terang tidak suka kemunafikan dunia korporat, ketika saya ke bank, orang-orang tersenyum. Ketika saya ke graha indosat atau telkomsel, semua orang tersenyum. Terus terang saya tak pernah membalas senyum itu.
Ketika ke plasa telkom juga tersenyum, ketika ke mana-nama di perkantoran manapun, satpam akan menyambut dengan senyum, front office menyambut dengan senyum.
Namun tiba-tiba saya terkejut dengan berita tentang Group Head Marketing sebuah perusahaan besar menghajar istrinya sendiri, memukul anak-anaknya sendiri. Mana ya keramah tamahan yang dipertunjukkan di kantornya. Bukan satu dua orang yang begini, tapi banyaaaaaak.
Saya yakin 99%, bahwa para front office yang tersenyum senantiasa di kantornya itu jarang tersenyum kepada suaminya di rumah atau kepada anak-anaknya. Para manajer yang selalu tersenyum terhadap bawahan dan rekan bisnis itu, tentu jarang tersenyum kepada istri dan anak-anaknya. seandainya tersenyum, tidak akan seefektif seperti di kantor.
Mereka yang lembut dan afektif, welas asih kepada sekretaris, bawahan, rekan bisnis, office boy, ternyata tidak lembut, afektif dan welas asih kepada istri, anak atau suaminya.
Karena itulah saya tidak menyukai dunia korporat. Saya lebih suka menjadi wiraswasta. yang bisa tersenyum dan welas asih kepada keluarga, walaupun juga bisa marah dan tegas. Nothing to hide.
KArena saya merasa dunia wirasawasta adalah dunia apa adanya. Tidak ada kepura-puraan. Inilah diriku, bukan diri yang dikendalikan oleh korporat.
Kemunafikan korporat. Sebuah hal yang menyedihkan
Semarang, Ketika semi menganggur….
Berbagi